Jakarta, Porostimur.co – Seperti pepatah, ada yang bekerja dalam senyap namun menghasilkan banyak hal. Filosofi itu tampak pada sosok di balik berdirinya media Poros Timur, yang tengah dipersiapkan untuk menjadi salah satu warna baru dalam lanskap media nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Sosok tersebut adalah Dr. Andi Abbas, SH, MH, M.Si, pemerhati berbagai isu sosial sekaligus inisiator utama lahirnya Poros Timur. Meski tidak bekerja sendiri, doktor hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini menjadi salah satu penyangga utama dalam proses perintisan media tersebut.
Dihubungi saat berada di luar negeri, Andi Abbas—yang akrab disapa Puang Abbas—mengungkapkan bahwa berbagai perangkat pendukung operasional media telah dipersiapkan, termasuk kantor redaksi.
“Kantor berlantai tiga di kawasan pusat bisnis Kota Makassar. Lokasinya dekat salah satu hotel bintang lima,” ujarnya dari Roma, Italia, belum lama ini.
Andi Abbas yang baru saja purna bakti dari jabatan Kepala Syahbandar Bungku, Morowali, Sulawesi Tengah, menegaskan keinginannya untuk tetap berkontribusi bagi bangsa dan negara.
“Saya masih prima. Stamina masih stabil untuk berkonsentrasi membangun negara dan bangsa,” tegasnya.
Ia menyatakan akan berkomitmen penuh untuk mengembangkan Poros Timur sebagai media yang memberi ruang bagi pemberitaan tokoh publik dan dinamika kebijakan. Media ini juga diharapkan menjadi bagian dari ekosistem informasi yang turut memperkuat demokrasi di Indonesia.
Pada tahap awal, Poros Timur akan memfokuskan pemberitaan pada kawasan Indonesia Timur. Karena itu, kantor pusat ditempatkan di Makassar, Sulawesi Selatan. Ke depan, jaringan biro direncanakan akan diperluas ke berbagai daerah di kawasan timur Indonesia. Saat ini, perwakilan juga telah disiapkan di Jakarta, dengan dapur redaksi yang dikelola oleh tim profesional.
Dengan persiapan tersebut, Poros Timur menargetkan diri menjadi media yang tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menghadirkan perspektif baru dari wilayah timur Indonesia untuk panggung nasional.













