Ada yang berbeda di langit Sulawesi pada Minggu, 2 Agustus. Birunya membentang tanpa banyak awan, seakan memberi ruang bagi sebuah perayaan yang berlangsung tanpa hingar-bingar. Tidak ada pesta besar, tidak ada panggung megah, hanya doa-doa sederhana, secangkir kopi hangat, dan ucapan tulus dari orang-orang yang mengenalnya.
Hari itu, Capt. Sorindra, S.H., M.M., M.Mar. genap berusia 49 tahun.
Bagi banyak orang, usia 49 hanyalah angka. Namun bagi seorang nahkoda, usia adalah kumpulan pelayaran. Ada pelabuhan yang telah disinggahi, badai yang pernah diterjang, keputusan-keputusan sulit yang harus diambil, dan orang-orang yang harus dipastikan tiba dengan selamat.
Lahir di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada 2 Agustus 1977, Sorindra tumbuh di kawasan yang akrab dengan danau, alam, dan denyut kehidupan masyarakat pekerja. Dari tanah kelahirannya itu, ia melangkah menuju dunia maritim, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa laut tak pernah bisa ditebak dan kepemimpinan tak pernah boleh ragu.
Baginya, menjadi nahkoda bukan sekadar menguasai peta pelayaran atau membaca arah angin.
“Menjadi nahkoda itu bukan cuma soal memutar kemudi. Tapi soal mengambil keputusan saat semua orang di kapal menaruh harapan pada kita.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Mereka yang pernah bekerja bersama Capt. Sorindra melihatnya sebagai prinsip hidup. Ketegasan memang menjadi ciri khasnya, tetapi ketegasan itu selalu berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Di dunia maritim, seorang kapten sering kali dinilai dari kemampuannya membawa kapal melewati badai. Namun, bagi Sorindra, ukuran keberhasilan jauh lebih sederhana: memastikan setiap awak merasa didengar, dihargai, dan kembali ke rumah dengan selamat.
Perjalanan akademiknya juga mencerminkan semangat belajar yang tidak pernah berhenti. Gelar Sarjana Hukum, Magister Manajemen, hingga Magister Maritim menjadi bukti bahwa pengalaman di lapangan harus berjalan seiring dengan penguatan ilmu pengetahuan. Baginya, kepemimpinan membutuhkan lebih dari sekadar pengalaman; ia juga membutuhkan wawasan dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Memasuki usia ke-49, semangat itu tidak tampak berkurang. Rekan-rekannya mengenal sosok yang tidak hanya memberikan instruksi dari balik meja, tetapi juga turun langsung ketika situasi membutuhkan kehadirannya. Ia lebih memilih mendengar sebelum mengambil keputusan dan percaya bahwa solusi terbaik lahir dari komunikasi yang terbuka.
Di tengah dunia kerja yang semakin kompleks, gaya kepemimpinan seperti itu menjadi semakin langka. Tegas dalam prinsip, tetapi tetap menghargai manusia sebagai pusat dari setiap keputusan.
Barangkali itulah makna ulang tahun yang sesungguhnya bagi Capt. Sorindra. Bukan tentang bertambahnya usia, melainkan bertambahnya kesempatan untuk terus memberi manfaat. Bukan tentang lilin yang dipadamkan, melainkan tentang cahaya pengabdian yang terus dijaga agar tetap menyala.
Langit Sulawesi yang cerah hari itu seolah menjadi metafora perjalanan hidupnya. Setelah berkali-kali menghadapi gelombang dan badai, ia tetap berdiri di anjungan, memegang kemudi dengan tenang, memastikan arah pelayaran tidak berubah.
Karena pada akhirnya, seorang nahkoda tidak dikenang hanya karena kapal yang dikemudikannya, tetapi karena manusia-manusia yang berhasil dibawanya pulang dengan selamat.
Selamat ulang tahun ke-49, Capt. Sorindra, S.H., M.M., M.Mar.
Semoga senantiasa dianugerahi kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan dalam setiap langkah pengabdian. Semoga kompas kehidupan selalu mengarah pada kebaikan, dan setiap pelayaran yang dipimpin menjadi perjalanan yang membawa harapan bagi banyak orang. ***











