JAKARTA, Porostimur.co – Di tengah deru peperangan yang kian bising antara Iran dan Israel, dunia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa mekanisme perdamaian global sering kali tertinggal jauh dari dinamika konflik dengan eskalasi yang sedemikian cepat.
Saat berbagai kekuatan besar sibuk mempertajam posisi masing-masing, ruang bagi negara-negara menengah untuk memainkan peran diplomatik justru menjadi semakin penting.
Dalam situasi ini, langkah dan niat baik Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk terlibat sebagai mediator patut disoroti secara lebih jernih.
Sebagian kalangan menggagap nisiatif tersebut terlalu ambisius. Ada pula yang menilai Indonesia tidak memiliki pengaruh yang cukup besar di kawasan Timur Tengah.
Namun, jika dilihat dari perspektif politik luar negeri Indonesia, langkah tersebut justru selaras dengan fondasi diplomasi yang telah lama dianut dan disanjung di negeri ini: prinsip bebas aktif.
Bebas dari Blok, Aktif Mencari Perdamaian
Sejak era Mohammad Hatta memperkenalkan konsep politik luar negeri bebas aktif pada awal kemerdekaan, Indonesia menempatkan dirinya tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, tetapi tetap aktif dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.
Prinsip ini bukan sekadar slogan diplomatik, melainkan panduan strategis bagi Indonesia untuk berperan dalam isu-isu global tanpa kehilangan kemandirian.
Dalam konflik Iran–Israel, prinsip tersebut kembali menemukan relevansinya. Indonesia tidak berada dalam posisi menjadi bagian dari aliansi militer mana pun yang terlibat dalam konflik tersebut. Karena itulah Indonesia memiliki ruang moral dan diplomatik untuk menawarkan diri sebagai penengah.
Justru dalam situasi seperti inilah politik bebas aktif menemukan relevansinya: tidak berpihak pada blok yang bertikai, tetapi aktif membuka ruang dialog.
Ketika Mekanisme Perdamaian Global Dipertanyakan
Konflik Iran–Israel juga memunculkan kembali perdebatan mengenai efektivitas berbagai lembaga perdamaian internasional.
Banyak yang menilai bahwa lembaga-lembaga tersebut kerap kehilangan daya dorong ketika konflik melibatkan kepentingan geopolitik besar.
Perang ini memperlihatkan bagaimana struktur perdamaian global sering kali bergerak lebih lambat dibanding eskalasi konflik di lapangan.
Ketika mekanisme formal mengalami kebuntuan, diplomasi alternatif—termasuk dari negara-negara nonblok—menjadi semakin relevan.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam diplomasi semacam ini. Mulai dari peran dalam gerakan negara berkembang hingga keterlibatan dalam berbagai misi perdamaian internasional. Tradisi tersebut membentuk reputasi Indonesia sebagai negara yang relatif dipercaya untuk mendorong dialog.
Modal Diplomasi Indonesia
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kedekatan emosional dengan isu-isu di Timur Tengah.
Namun pada saat yang sama, Indonesia juga dikenal sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi pluralisme. Kombinasi ini memberi Indonesia posisi unik dalam diplomasi internasional.
Langkah Prabowo Subianto untuk menyuarakan kemungkinan peran mediasi bukan berarti Indonesia akan mampu menghentikan konflik dengan sendirinya. Diplomasi tidak selalu diukur dari keberhasilan instan. Terkadang, membuka ruang komunikasi saja sudah menjadi kontribusi penting.
Dalam sejarah konflik internasional, banyak proses perdamaian dimulai dari inisiatif kecil yang awalnya dianggap tidak realistis.
Menghargai Niat, Menguji Konsistensi
Karena itu, niat Indonesia untuk mengambil peran sebagai mediator patut diapresiasi sebagai manifestasi dari politik luar negeri bebas aktif.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, keberanian untuk menawarkan jalur dialog merupakan langkah yang tidak selalu populer, tetapi sangat diperlukan.
Tentu saja, inisiatif tersebut juga harus diikuti dengan diplomasi yang konsisten, realistis, dan terukur. Menjadi juru damai bukan sekadar pernyataan politik, tetapi membutuhkan kerja diplomatik yang panjang, jejaring internasional yang kuat, serta kredibilitas di mata pihak-pihak yang bertikai.
Namun setidaknya, gagasan untuk menghadirkan Indonesia sebagai bagian dari solusi menunjukkan bahwa politik luar negeri Indonesia masih berpegang pada cita-cita awalnya: berkontribusi bagi perdamaian dunia.
Di tengah dunia yang kian hiruk pikuk oleh suara senjata, mungkin yang paling dibutuhkan justru negara-negara yang berani berbicara tentang perdamaian.
Dalam konteks inilah, langkah Prabowo Subianto untuk menawarkan diri sebagai mediator tidak sekadar langkah diplomatik—melainkan pengingat bahwa prinsip bebas aktif masih hidup dalam praktik politik luar negeri Indonesia. (ARM)

![Presiden Prabowo Subianto didampingi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya (kanan) di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. [ANTARA FOTO/Galih Pradipta].](https://porostimur.co/wp-content/uploads/2026/03/95013-prabowo-teddy-prabowo-subianto-dan-teddy-indra-wijaya.webp)








