SORE itu seputar wilayah, Bogor, Jawa Barat suasananya teduh. Langit tampak cerah , tidak menurunkan air raksa seperti biasa. Jalanan jadi lebih bersahabat. Kendaraan dari Jakarta ke Bogor dan sebaliknya mengalir pelan, tak tergesa.
Di wilayah itu, sebuah rumah dengan halaman luas menyambut. Kendaraan tamu terparkir rapi. Itu kediaman Jenderal TNI Purn. Dudung Abdurachman, Kepala Staf Kepresidenan, mantan Kepala Staf Angkatan Darat. Rumahnya excellent, dan asri. Sejuk, tertata, seperti karakter pemiliknya: tegas, tapi teduh.
Di sudut teras, beberapa tamu menunggu giliran. Ada yang membawa urusan dinas, ada yang sekadar menaruh hormat. Di antara deretan tamu, terdapat seorang pria asal Bugis: .Dr. Andi Abbas, S.H., M.H., M.Si. Logatnya halus. Ia bukan pakar komunikasi tapi gaya bicaranya terukur. Ia padukan struktur bahasa dengan adab yang kental sebagai orang Bugis. Adab & Adat
Ia datang dari jauh. Dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Menempuh ribuan kilometer hanya untuk satu tujuan: bersilaturahmi. Bagi Andi Abbas, jarak bukan penghalang. Sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, — saling menghargai, saling memuliakan, saling mengingatkan itu yang ia bawa.
Sebagai orang Bugis, ia menjunjung tinggi adat. Menjadi tamu berarti menjaga batas. Meski obrolan dengan sang jenderal berlangsung cair dan hangat, ia tetap menempatkan diri. Ada norma yang dijaga. Ada adab yang dipatuhi.
Di ruang tamu itu, dua dunia bertemu. Dunia militer yang disiplin dan dunia Bugis yang menjunjung etika. Tak ada yang saling mendominasi. Yang ada hanya rasa saling menghormat.
Sore itu, wilayah Bogor mengingatkan: silaturahmi tidak butuh alasan besar. Cukup niat baik dan adab. Jarak ribuan kilometer dari Bone ke Bogor pun jadi terasa dekat, ketika yang dibawa adalah nilai, bukan kepentingan.
Jenderal TNI Purn. Dudung Abdurachman mempersilakan Andi Abbas masuk ke salah satu ruang utama. Ruangan itu bukan untuk semua orang. Hanya tamu tertentu yang diizinkan melangkah ke dalamnya. Dan sore itu, Andi Abbas adalah salah satunya.
Waktu berjalan pelan. Dua jam berlalu. Obrolan disertai tawa kecil terhenti.
Di luar, para tamu duduk sabar menanti giliran. Ada warga sipil, tapi mayoritasnya berseragam TNI. Mereka datang dengan urusan berbeda, tapi menunggu dengan adab yang sama.
TAMAT










