Daerah

Tradisi Nyekar, Wujud Kebahagiaan Idulfitri dan Refleksi Kehidupan

×

Tradisi Nyekar, Wujud Kebahagiaan Idulfitri dan Refleksi Kehidupan

Sebarkan artikel ini
KELUARGA ANDI ABBAS

 

BONE, porostimur.co – atau ziarah makam tetap menjadi bagian penting dalam perayaan bagi umat Islam di berbagai daerah di Indonesia. Usai melaksanakan salat Id, baik di masjid maupun di lapangan terbuka, masyarakat berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi mereka yang telah berpulang.

Tradisi ini tidak hanya dilakukan saat hari raya, tetapi juga menjelang bulan Ramadan. Praktik yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi sarana refleksi spiritual, menghidupkan kembali kenangan bersama orang-orang tercinta, sekaligus mengingatkan manusia akan hakikat kehidupan.

Dalam berbagai agama, tradisi serupa juga dikenal, meski dengan tata cara yang berbeda.

Di Bone, Sulawesi Selatan, suasana nyekar terlihat di Tempat Pemakaman Umum Palakka, yang berlokasi tak jauh dari Kantor Bupati. Salah satunya dilakukan oleh keluarga Dr. Andi Abbas yang berziarah ke makam almarhumah Hj Norma Dg Niasseng.

Dr. Andi Abbas dikenal sebagai tokoh asal Bone yang memiliki rekam jejak panjang sebagai birokrat di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) di sejumlah wilayah, sebelum memasuki masa purna tugas pada Juli 2025. Saat ini, ia juga aktif dalam dunia usaha, termasuk menjadi pendiri sekaligus penanggung jawab umum media porostimur.co.

Sementara itu, yang kini menjadi dewan pengarah porostimur.co, juga dikenal menjalankan tradisi serupa. Pada 2018, Teddy diberitakan menabur bunga dan memercikkan air di pusara ibundanya di Kebumen, Jawa Tengah, sebagai simbol doa dan penghormatan.

Momen nyekar kerap diwarnai suasana haru sekaligus hangat, yang kemudian diabadikan dalam foto keluarga.

Menurut Syapriadi, ziarah makam bukan sekadar rutinitas, melainkan cara untuk mengenang masa lalu dan merenungkan perjalanan hidup.

Ia menegaskan, Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai ajang saling memaafkan antar sesama, tetapi juga sebagai momentum mendoakan mereka yang telah tiada. Tradisi nyekar pun menjadi simbol bahwa hari raya turut dihadirkan dalam doa bagi para leluhur.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *