SainsTeknologi

Studi Ungkap Bayi Sudah Peka Musik Sejak Lahir, Otak Bukan “Lembar Kosong”

×

Studi Ungkap Bayi Sudah Peka Musik Sejak Lahir, Otak Bukan “Lembar Kosong”

Sebarkan artikel ini
Studi Ungkap Bayi Sudah Peka Musik Sejak Lahir
Studi menunjukkan bayi sudah peka terhadap musik bahkan sejak lahir. 🎶 (gambar yang dihasilkan oleh AI (kecerdasan buatan))

Selama lebih dari satu abad, dunia psikologi beranggapan bahwa baru lahir melihat dunia sebagai “kekacauan yang bising dan tidak terstruktur”. Namun, dua penelitian terbaru membantah pandangan tersebut. Temuan baru menunjukkan bahwa sejak lahir, bayi telah memiliki “perangkat” saraf yang cukup canggih untuk mengelompokkan rangsangan visual dan merespons ritme .

Otak Bayi Sudah Mampu Mengelompokkan Gambar

Penelitian pertama yang dipublikasikan di jurnal Nature Neuroscience melibatkan pemindaian fMRI terhadap lebih dari 100 bayi berusia dua bulan dalam kondisi terjaga. Proses ini terbilang sulit karena teknik fMRI menuntut subjek untuk tetap hampir tidak bergerak.

Cliona O’Doherty, ilmuwan saraf perkembangan dari Stanford University, menggambarkan eksperimen tersebut seperti “bioskop IMAX untuk bayi”, di mana para peneliti menampilkan gambar hewan, makanan, dan benda sehari-hari saat bayi berada di dalam mesin pemindai.

Scott Johnson, psikolog perkembangan dari UCLA yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menilai eksperimen ini sangat menantang. Menurutnya, bahkan pada orang dewasa, fMRI sulit dilakukan jika subjek tidak dapat diam mengikuti instruksi. Pada bayi, hal itu tentu jauh lebih rumit.

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa korteks visual ventral—bagian otak yang berfungsi mengenali objek—telah bekerja dengan pola yang mirip dengan orang dewasa. Baik pada bayi usia dua bulan maupun orang dewasa, area ini menunjukkan respons berbeda terhadap kategori objek yang berbeda.

Temuan ini menantang pandangan lama bahwa kemampuan mengelompokkan objek baru terbentuk melalui proses belajar bertahap setelah lahir. Para peneliti kini mempertanyakan apakah struktur tersebut terbentuk dari proses belajar yang sangat cepat dalam beberapa minggu pertama, atau memang sudah menjadi kemampuan bawaan sejak lahir.

Bayi Lebih Peka terhadap Ritme Ketimbang Melodi

Studi kedua yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology menemukan bahwa bayi baru lahir juga memiliki sensitivitas terhadap ritme musik. Penelitian yang dilakukan di Hungaria melibatkan hampir 50 bayi berusia kurang dari 48 jam. Saat bayi tertidur, peneliti memutar musik karya Bach dan merekam aktivitas otak menggunakan EEG.

Para peneliti memutar versi musik asli serta versi yang diubah ritmenya atau diacak melodinya. Hasilnya, otak bayi menunjukkan respons “terkejut” ketika ritme diubah, tetapi tidak bereaksi saat melodi yang dimodifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa bayi mampu merasakan pola ritme, meski belum dapat mengenali melodi secara utuh.

Roberta Bianco, pemimpin penelitian dan ilmuwan saraf dari University of Pisa, menjelaskan bahwa kepekaan terhadap ritme kemungkinan sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Lingkungan rahim dipenuhi pola ritmis, seperti detak jantung ibu dan gerakan tubuh, sementara cairan ketuban meredam perbedaan nada sehingga melodi kurang jelas terdengar oleh janin.

Meski demikian, psikolog Erin Hannon dari University of Nevada, Las Vegas, mengingatkan bahwa kemampuan otak mengikuti ritme tidak berarti bayi sudah sepenuhnya memahami irama musik. Perkembangan kemampuan motorik untuk bergerak mengikuti musik masih membutuhkan waktu.

Kedua penelitian ini masih berfokus pada aktivitas otak dan belum sepenuhnya menjelaskan dampaknya terhadap perilaku kognitif bayi. Namun, temuan tersebut membuka perspektif baru dalam studi ilmu saraf perkembangan, sekaligus memperkuat pandangan bahwa otak bayi sejak lahir sudah memiliki fondasi kemampuan kognitif yang kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *